Feeds:
Posts
Comments

Blame It On The Marketers

Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan teman yang bekerja di salah satu bank swasta besar. Pembicaraan ngalor ngidul dari mulai urusan asmara, sepakbola, dan akhirnya isu isu sosial dan politik yang berkembang di Indonesia.

Topik yang selalu rame dibicarakan adalah betapa bobrok-nya mental sebagian besar orang Indonesia, terutama jika sudah menyangkut duit. Banyak orang korupsi bukan karena mereka miskin, tapi karena itu sudah menjadi mental. Semakin tinggi posisi seseorang maka semakin besar korupsi. Semakin kaya seseorang semakin besar uang yang diembat. Sayangnya, yang namanya korupsi itu bukan cuma konsumsi kaum berdasi. Bahkan sampe pegawai2 rendahan pun sudah terbiasa dengan korupsi.

Pembicaraan itu terngiang ngiang di kepala saya. Hmmm…. kenapa yah bisa begitu.

Setelah sampai rumah, saya (seperti biasa) nyetel tivi, nyari channel yang acaranya sedang bagus. Ga nemu. Akhirnya saya baca majalah. Selain liat liat artikel, tentu aja ada halaman halaman iklan yang menawarkan produk kepada pembaca. Menarik untuk dilihat karena ga ada iklan yang jelek.

Walaupun sambil baca majalah, tapi masih kepikiran juga pembicaraan tadi siang. Kenapa yah orang pada korupsi?

Orang korupsi biasanya karena mereka merasa kekurangan, selalu ada sesuatu yang pengen mereka miliki. Dan daripada mereka mengumpulkan duit dengan cara yang jujur tapi lama, maka mereka mengambil shortcut untuk mendapatkan “kebutuhan” mereka secepatnya.

Orang merasa kekurangan bisa jadi karena memang ada kebutuhan yang belum tercukupi. Kalo begitu orang orang yang sudah memiliki pendapatan yang baik, seharusnya mereka ga korupsi dong. Tetapi seperti yang tadi dibahas…. korupsi juga ada di kalangan orang orang kaya, bahkan semakin mereka kaya semakin besar korupsi mereka.

Hmmmm…… berarti….. untuk orang orang itu merasa kekurangan adalah karena faktor serakah. Mereka selalu tergoda “to have more” atau “to spend more” atau “to enjoy more”.

Terbersit pikiran lucu. Jangan jangan banyak orang korupsi karena Marketers sukses dalam pekerjaan mereka. Mereka berhasil menggiring orang yang ga tertarik menjadi tertarik, dan orang yang tertarik akhirnya membeli. Satu HP ga cukup, beli HP lainnya. Punya sepeda kurang gengsi, beli dong motor. Beli motor ga asik, beli mobil dong. Satu mobil ga cukup, beli mobil lainnya. Belanja cash ga aman, ayo dong punya kartu kredit. Kartu kredit kelas klasik limitnya rendah makanya buka dong yang gold. Punya kartu kredit Gold mah udah ga istimewa, buka dong yang platinum card. Cuma punya kartu kredit yang Visa mah kurang, buka juga dong yang AMEX dan MasterCard, program2 diskonnya bisa saling melengkapi lho . Wisata di dalam kota kurang asik, wisata ke luar kota. Wisata di dalam negeri udah biasa, kenapa ga keluar negeri (sebagian ditambahi embel2 wisata rohani)…. dst dst dst….

Emang sih, faktor yang mendorong seseorang untuk korupsi itu banyak…. dari soal pemahaman agama yang kurang, masalah mental, masalah lingkungan (korupsi berjemaah), masalah materialisme, masalah harga yang naik terus terusan, dll dll dll. Tapi saya ga tertarik untuk membahas dari sisi lain. Saya hanya ingin membahas dari sisi marketing.

Bukankah tugas para marketers untuk membuka jalan bagi para sales people untuk menjual produk? Dengan berbagai strategi mulai dari market research, STP, marketing mix, promotion mix, dll para marketers berusaha membuat produk mereka berhasil menjajah pikiran dan benak para konsumen. Dengan segala macem media kita (para marketers) membombardir konsumen yang menyatakan bahwa produk kita layak untuk mereka konsumsi.

So, marketers yang sukses adalah mereka yang berhasil “menjajah” pikiran para konsumen, sekaligus membuka jalan para sales people untuk mengeksekusi penjualan. Sayangnya, ga semua konsumen punya filter yang cukup bagus untuk membedakan mana yang bisa dibeli dan mana yang jangan dibeli. Ketika konsumen yang tidak memiliki filter yang bagus tersebut akhirnya termakan dengan kesuksesan para marketers mereka ga akan pikir panjang untuk menempuh shortcut.

If this is the case…. Can we put a blame on the success of marketers? 🙂

Advertisements

Hai…. apa kabar? Baik baik aja khan? 🙂

Guys, salah satu fenomena yang sering kita jumpai di Indonesia adalah kebanyakan orang beranggapan Sales dan Marketing itu hal yang sama. Dulu pun saya beranggapan seperti itu. Dan karena saya ga bakat dagang, maka saya memilih untuk menghindar dari profesi yang berkaitan dengan hal hal sales dan marketing ini. Mungkin karena ga bakat dagang itu pula yang membuat saya memilih masuk ke area IPA waktu SMA dan teknik ketika kuliah.

Ternyata saya salah (dan saya baru sadar beberapa tahun terakhir ini). Saat ini saya bisa bilang bahwa saya “jatuh cinta kepada Marketing, tetapi tidak kepada Sales”. Saya tetap ga bakat dagang.

Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di FEUI, saya makin tau dimana bedanya Sales dan Marketing.

So, berikut ini bedanya Sales dan Marketing (yang saya ketahui).

  • Marketing adalah Pemasaran. Sales adalah Penjualan.
  • Ilmu dasarnya Pemasaran (Marketing) adalah STP + 4P, dan skill yang dibutuhkan oleh mereka adalah kreatifitas strategi. Mereka cenderung bekerja di belakang layar. Sementara Penjualan (Sales)  lebih berada sebagai ujung tombak, dan skill yang dibutuhkan oleh Sales adalah human relationship atau interpersonal skill. Ilmu dasar yang wajib dikuasai oleh orang orang Sales adalah Prospecting – Presentation – Closing.
  • Marketing bertugas membuka jalan dan memberi umpan bagi Sales, sementara Sales bertugas mengkonversi berbagai peluang yang diciptakan oleh Marketing agar menjadi hasil. Jika diumpamakan dalam sepakbola, maka Marketing adalah playmaker seperti Kaka atau Fabregas, sementara Sales adalah striker seperti Fernando Torres atau David Villa.
  • Penilaian terhadap orang Sales biasanya dinilai dari berapa besar penjualan yang dihasilkan (diukur dengan uang), sementara penilaian kepada orang Marketing biasanya tidak diukur dengan uang, tetapi misalkan dari “Market Coverage”, “Brand Awareness”, “Penguasaan Pasar” dll dll dll.

Kenapa di Indonesia biasanya fungsi mereka digabungkan? Well, kalo menurut saya, itu karena perusahaan perusahaan di Indonesia emang ga tau bedanya, dan mereka ingin menghemat. Kalo menurut saya sih harusnya dipisahkan. Memang ada juga orang orang yang bisa merangkap dobel antara Sales dan Marketing, tapi kebanyakan sih ngga bisa. Ga semua perusahaan bisa mendapatkan playmaker yang juga merangkap sebagai striker seperti Francesco Totti atau Lionel Messi.

So, siapa yang lebih penting di perusahaan? Menurut saya sih ga ada yang lebih penting. Dua duanya penting untuk bisa saling co-exist dan interdependent (saling tergantung). Orang Sales harus mengerti pekerjaan Marketing, dan juga sebaliknya.

Need Help on My Questioner

Hai…. apa kabar ?
Makasih udah mampir di blog ini.

Kali ini saya ga akan bahas hal hal yang berbau marketing. Kali ini saya akan sedikit keluar track, yaitu membicarakan mengenai masalah Outsourcing.

Lho kok….Kenapa Outsourcing?
Karena sekarang saya sedang mengadakan penelitian untuk digunakan dalam skripsi saya, dan tema yang saya bahas adalah mengenai permasalahan permasalahan yang terjadi di dunia outsourcing.

Saat ini saya membutuhkan banyak responden untuk mengisi kuesioner saya. Responden yang saya butuhkan adalah orang orang yang pernah atau masih bekerja sebagai pegawai outsourcing.

Apabila anda memiliki kenalan yang cocok dengan kriteria responden tersebut, mohon hubungi saya di firman.fajar@gmail.com. Nanti akan saya kirimkan file ke alamat email anda, atau apabila dibutuhkan saya akan kirimkan dalam bentuk hardcopy ke alamat yang anda tentukan.

Penelitian ini akan berakhir pada 30 Maret 2009.

Sebagai gambaran umum :
Sekarang ini trend dalam dunia pekerjaan adalah dengan menggunakan model outsourcing. Sama seperti halnya sebuah pisau, Outsourcing sendiri sebenarnya sesuatu yang netral. Kalau dilakukan dengan benar dan etis, maka outsourcing akan bisa menguntungkan banyak pihak. Akan tetapi kalau disalahgunakan, maka outsourcing memang akan sangat merugikan.
Ada banyak pihak yang pro terhadap outsourcing. Tetapi banyak juga yang meminta agar outsourcing dihapuskan karena tidak manusiawi.

Yang akan saya teliti adalah mengenai persepsi karyawan outsourcing tentang isu isu dan permasalahan2 yang banyak timbul dalam sistem kerja outsourcing, seperti :

  • Tidak memiliki jenjang karir
  • Tidak memiliki kepastian masa depan
  • Perlakuan diskriminatif
  • Tidak adanya sense of belonging, baik terhadap perusahaan client (pengguna jasa outsource atau perusahaan pemberi kerja), maupun terhadap perusahaan vendor (penyedia jasa outsource).
  • DLL

Sekali lagi, saya mohon bantuan anda…. apabila anda memiliki kenalan yang pernah ataupun masih bekerja sebagai karyawan outsourcing, mohon hubungi saya di firman.fajar@gmail.com.
Mungkin orang itu anda sendiri…. atau saudara kandung anda…. atau sahabat anda…. atau pacar anda…. atau teman sekolah anda… atau teman kuliah anda… atau teman kost anda…. atau tetangga anda… atau saudara sepupu anda…. atau teman sekantor anda…. atau teman satu gedung dengan anda…. atau gebetan anda…. atau selingkuhan anda…. atau kenalan anda di milis… pokoknya siapapun yang pernah atau masih bekerja sebagai pegawai outsourcing.

Atas perhatian dan bantuan anda, saya ucapkan banyak terima kasih.

Saya termasuk orang yang suka sekali dengan masakan masakan asli Indonesia, bahkan lebih dari makanan makanan luar negeri terutama junk food (walaupun sekali sekali masih makan juga di FKC).

Salah satu menu kegemaran saya adalah Pecel Lele. Makanan ini murah meriah dan gampang ditemui di pinggir jalan (yang biasa saya lalui).
Tapi dari sekian banyak warung pecel Lele yang saya pernah singgahi, ada beberapa yang menjadi favorit saya.

Apakah Lele-nya beda?
No, of course not. Lele is Lele. Ga ada yang istimewa antara satu Lele dengan Lele lainnya.

Apakah tempatnya?
Not really. Semua warung tersebut letaknya dipinggir jalan kok. So, walaupun ada warung yang letaknya strategis dan tempatnya bersih, hal itu belum menjadi sasaran utama saya.

Apakah masalah harga?
Hehehehe….. harga Pecel Lele di Jakarta itu berkisar antara 5000 – 8000 rupiah per porsi (lengkap dengan nasi dan teh tawar hangat). Kalau cuma beda seribu – dua ribu rasanya sih ga terlalu signifikan.

Kalau begitu, apa dong yang bikin saya kembali ke warung tersebut?
Jawabannya adalah : SAMBALnya.
Lele boleh sama…. tapi sambalnya beda. Kalau makan pecel lele tapi bumbu sambalnya ga enak, maka ga ada yang istimewa dari warung tersebut…. dan akhirnya ga akan masuk dalam memory saya (selaku konsumen).

So, karena subject tulisan ini adalah PELAJARAN dari Tukang Pecel Lele, maka apa dong inti pelajarannya?

Inti pelajarannya adalah…. kalau kita menjual sebuah produk (baik barang maupun jasa) yang :
sangat general….
gampang diduplikat oleh kompetitor….
ga mungkin bersaing dalam soal harga….
lokasi tempat juga kurang strategis kalo dibanding sama kompetitor….
Maka jangan kalah dulu sebelum bertarung. Selalu ada celah untuk memenangkan hati pelanggan.
SAMBAL adalah diferensiasi yang ditawarkan si tukang pecel lele. SAMBAL memang bukan menu utama yang dijual, tapi tanpa SAMBAL maka menu utama akan berasa biasa biasa aja. SAMBAL mungkin cuma pelengkap yang tidak dipasang price tag alias tidak dijual dengan nilai rupiah. Tetapi SAMBAL tersebut bisa memberikan nilai yang lebih dari sekedar angka angka. Sambal tersebut berhasil menancapkan image warung pecel lele tadi yang di benak konsumen, dan akan membuka peluang untuk “repeat purchase”.

So…. produk apapun yang kita tawarkan…. make sure bahwa kita memiliki nilai lebih yang akan membuat konsumen kembali lagi ke kita.

Partai The Changcuters

Kenal sama band The Changcuters ? Pasti lah yah. Lima personil Changcuters yang berasal dari Bandung ini sedang menikmati popularitas tinggi di dunia hiburan tanah air.

Tau dong arti kata Changcut?
Buat yang lahir di era 70 – 80 an seharusnya sih tau. Changcut (atau kancut) adalah “celana dalam”.

Kenapa Changcuters bisa berkibar? Apakah semata mata karena dewi fortuna sedang berbaik hati kepada mereka?
Rasanya sih bukan.

Lalu kenapa kalo gitu?
Satu yang bisa saya katakan adalah karena Changcuters dikelola dengan sangat baik (profesional) dan memiliki diferensiasi yang kuat sehingga mudah dibedakan dengan band lainnya.

Diferensiasi mereka dapat dilihat dari berbagai atribut yang menempel dalam diri mereka, dari mulai gaya rambut, seragam, gaya panggung (yang agak2 niru The Beatles), gerakan gerakan vokalisnya yang kayak cacing kepanasan, dll. Itu semua menambah “syarat syarat standard” sebuah band untuk bisa eksis seperti kemampuan mencipta lagu dan kemampuan musik yang ga malu maluin.

Diferensiasi mereka bukan dilihat dari tampang vokalis atau suaranya.
Tria -vokalis- bahkan berani menyatakan bahwa suara dia biasa biasa saja. Tapi toh hal itu ga bikin mereka kehilangan penggemar.

Jumlah band di Indonesia sendiri ada banyak, mungkin ribuan. Yang sampai saat ini masih berkibar antara lain Ungu, Naff, Andra and The Backbones, The Massiv, Letto, Nidji, dll. Yang kemaren sempat berjaya dan udah mulai kehilangan pamor pun banyak, misal Dewa, Seurius, Jamrud, dll. Yang udah bubar malah banyak juga.

Intinya, The Changcuters telah berhasil berkibar di industri musik tanah air walaupun ada banyak band yang sudah ada dan yang mungkin akan mencoba masuk.

Jika dilihat lebih lanjut, sebenarnya band band yang sekarang berkibar itu memiliki diferensiasi masing masing yang agak kuat.

  • ST12 bisa berkibar dengan cengkok rada dangdut padahal musiknya POP.
  • Kangen Band bisa berkibar karena walaupun tampangnya ga menjual tetapi musikal mereka (yang katanya rendahan) justru mudah diterima oleh masyarakat kalangan bawah. (Temen saya sampai bilang “mending denger aja lagunya, tapi jangan liat tampangnya” hahahahahaha).
  • Letto kuat karena syair syair puitis dan ga melulu mengumbar cinta.
  • Sebaliknya Naff konsisten dengan tema teman cinta dan syair yang indah.
  • Ungu sangat kuat di musikal. Lagu lagu mereka mudah diterima pasar. Personil Band Ungu juga memiliki tampang yang lumayan. Ditambah lagi mereka rajin mengeluarkan album religi islami yang juga enak enak lagunya.
  • Peterpan juga memiliki keuntungan dari Ariel sang vokalis yang memiliki tampang yang menjual, dan daya cipta lagu yang juga OK.

Nah…. kita sudah belajar betapa diferensiasi itu penting.
Band band papan atas adalah band band yang menggunakan ilmu marketing secara benar (entah mereka sadari atau tidak).

Partai partai politik yang akan terjun dalam pemilu 2009 pun sebenarnya menghadapi tingkat persaingan yang mirip dengan persaingan band.
Tetapi sayangnya banyak partai yang belum memiliki diferensiasi yang kuat.
Semua menyatakan “membela kepentingan rakyat”.

  • Semua menyatakan “peduli kepada wong cilik”.
  • Tiap capres-nya diusung sebagai “Ratu Adil” yang ditunggu tunggu.
  • Semua berkata “akan memperbaiki” keadaan yang sudah morat marit.
  • Semua berkata “anti korupsi”.
  • Semua menjual kesedihan dan kesengsaraan rakyat dalam iklan dan kampanye.

Kalo cuma gitu doang mah percuma dong. Rakyat lama lama jadi antipati terhadap yang namanya Parpol. Mereka cuma peduli kepada politik uang (pas kampanye bagi bagi uang) padahal mereka belom tentu akan nyoblos atau mencontreng partai tersebut.

Partai partai politik harus belajar kepada Changcuters (atau band band yang berkibar saat ini).

Trus diferensiasi antar partai harusnya dari mana aja?
Banyak….

  • Dari nama partainya aja harusnya udah bisa membuat perbedaan. Untuk hal ini, saya mesti memberikan apresiasi kepada HANURA dan GERINDRA. Mereka berhasil keluar dari kata kata “Demokrasi” dan “Pancasila” yang banyak digunakan oleh partai lain.
  • Unsur kedua adalah warna dan lambang. Kedua hal ini adalah identitas partai yang juga harusnya dipilih secara hati hati. Kalo masih berkisar lambang Banteng dan warna merah, rasanya ga akan banyak faedahnya. Untuk hal ini saya cukup apresiasi terhadap PDS (ungu + burung merpati), PKS (hitam + padi dan sepasang bulan sabit) dan Golkar (kuning + beringin). Partai lain kebanyakan menggunakan warna putih, merah, hijau, biru.
  • Program Kerja. Salah satu yang selalu diumbar oleh parpol adalah “kami akan”. Mereka jarang sekali memkampanyekan “kami sudah” dan “kami sedang”. Kalo kampanye “kami akan”, saya yakin akan sulit diukur keberhasilannya karena pada saat mereka terpilih mereka akan sibuk dengan keadaan2 yang terjadi sehingga lupa akan janji janji pada saat kampanye.
  • Kader. Ini adalah unsur penting dalam pemilu. Kebanyakan partai menjual kader kader antah berantah yang belom punya reputasi. Saat ini banyak kader muda yang dijual oleh parpol. Kader kader muda ini kebanyakan adalah kader karbitan yang tidak menitis karir politik dari bawah dan belum memiliki karya nyata dalam masyarakat. Beberapa partai malah mulai menggunakan para selebritis untuk jadi calon legislatif, semata mata karena mengincar jumlah kursi yang bisa didapat dengan mengandalkan popularitas si artis (padahal si artis / selebritis itu sangat tidak kompeten dalam dunia politik dan belum tentu peduli kepada rakyat). Kenapa sih ga pilih kader kader dari tokoh masyarakat yang memang memiliki karya nyata saja? Kalo mau jualan program kerja dan para caleg-nya, maka pilih caleg yang memang sudah memiliki track record yang nyata. Lalu gimana dengan kader2 muda? Yah mereka harus membuktikan diri terlebih dahulu dong. There’s no short cut.
  • Capres. Nah ini dia yang repot. Kebanyak orang mendirikan partai untuk menjadi kendaraan politik untuk menuju RI-1. Banyak kader partai besar keluar dari partainya dan mendirikan partai baru karena mereka gagal menjadi calon dari partai mereka. Dan ada partai yang akhirnya mengkultuskan seseorang yang itu itu saja untuk tujuan RI-1 tersebut. Capres yang ga mencerminkan keinginan rakyat banyak ga akan pernah sukses. Agum Gumelar pasti sudah merasakan hal tersebut di Pemilu 2004 kemarin.
  • Cara Kampanye. Kebanyakan parpol berkampanye cuma selama masa masa memasuki pemilu dan dengan cara yang serupa juga (yaitu dengan memasang atribut parpol dan foto para caleg diseluruh tempat sehingga mengganggu keindahan). Kalau ada banyak duit maka mereka akan memasang iklan di televisi. Well, in my humble opinion, kampanye yang sesungguhnya dan mampu mengakar adalah justru bukan di masa menjelang pemilu. Kalau semua berkampanye pada saat menjelang pemilu maka calon pemilih akan menerima terlalu banyak informasi dari yang bisa mereka simpan dan olah. Kampanye model seperti ini adalah kampanye yang mahal dan sia sia. Kampanye yang mumpuni adalah kampanye yang dilakukan dengan konsisten dan dengan karya nyata kepada masyarakat (sembari memperkenalkan caleg kepada calon pemilih).

Diferensiasi memang bukan barang yang mudah didapatkan. Butuh pemikiran yang dalam untuk bisa mendapatkan ide kreatif mengenai diferensiasi, terutama di dunia politik. Akan tetapi hal tersebut bukan hal yang mustahil. Barrack Obama berhasil mendapatkan diferensiasi yang kuat. Para capres dan caleg di Indonesia pun seharusnya bisa (dan ga mesti dengan mencontek gaya Barrack Obama). BE CREATIVE folks….. BE CREATIVE.

Untuk lebih detail mengenai diferensiasi tiap parpol, ada baiknya serahkan kepada team marketing yang profesional.
Sekali lagi…. parpol harus belajar banyak dari Changcuters. Parpol harus belajar mengenai DIFERENSIASI.

Mee Too Political Party

Gila yah, banyak banget jumlah partai sekarang. Kayaknya semenjak orde baru tumbang yang namanya kebebasan bikin partai itu bener bener kayak kuda lepas dari kandang. Semua orang bebas bikin partai.

Dulu kita cuma kenal 3 partai (dulu means waktu orde baru), PPP, Golkar, PDI. Sekarang….. I can’t remember…. I’ve already lost count.

Sepanjang yang saya bisa kelompokkan, cuma ada 3 kategori partai yang bersaing. Partai yang berbasis agama, dan partai yang berbasis nasionalis, dan Partai berbasis agama yang berjuang tetap nasionalis.

Masing masing jumlahnya banyak.
Partai agamis contohnya PBR, PPP, PBB, dll.
Partai Nasionalis contohnya Golkar, PDI, Hanura, Gerindra, dll
Partai Agamis yang bersifat nasionalis contohnya PKB, PDS.

Jujur, saya ga bisa melihat adanya diferensiasi antar partai. Isu kampanye mereka pun tetap saja menjual the same old things…. kemiskinan…. korupsi…. penegakan hukum…. and other old stuff.

Sorry to say folks… GA KREATIF.

Jujur saja, saya makin males ngikutin perkembangan politik di negeri ini. Orang orang yang gagal berkembang di satu partai dengan gampangnya membelot ke partai lain. Kalo di partai yang baru tersebut juga mentok, maka mereka akan membuat partai baru. Click…. as simple as that.
Ga tau kenapa, saya kok mikir orang orang tersebut emang cuma haus kekuasaan dan uang aja. Kalo emang pengen berkarya demi bangsa…. masih banyak ruang yang bisa digunakan…. ga cuma lewat parlemen.
Partai partai yang berdiri bener bener ga punya diferensiasi.
Mereka cuma menjadi “Mee Too Political Party”. Opsi yang mereka tawarkan cuma kayak jejeran angkot dengan nomor tujuan yang sama. Bedanya angkot yang satu sopirnya pake kumis, angkot lain ga pake kumis. Ada sopir yang gundul, ada yang kriting, ada yang ikal, ada yang lurus. Ada yang pake kemeja kotak kotak, ada yang kemeja polos, ada yang pake T Shirt, ada yang pake kaos warna putih, merah, ijo, kuning, oranye, dll. Mereka semua ngaku bahwa angkot merekalah yang paling OK…. padahal mobil yang mereka pakai sama sama kijang yang dibalur warna merah dan kode tujuan yang sama dan tarif yang juga seragam.
Angkot manapun yang kita pilih ga akan terasa beda beda amat.

Mumpung pemilu masih beberapa bulan lagi…. masih ada waktu bagi para parpol untuk melakukan diferensiasi. Mereka harus bisa menjadikan parpol mereka menjadi parpol yang profesional. Mereka harus menggunakan pendekatan pendekatan Marketing. Sewalah para marketer ulung. Sewalah para public relation yang handal. Sewalah para strategic manager terbaik.
Politik ga cuma kepandaian bersilat lidah dan kelihaian bermanufer. Politik ga cuma sekedar menjual kata kata yang hampa. Politik BUKANLAH untuk menipu masyarakat dengan janji2 yang langsung dilupakan setelah masuk Senayan.

Politik adalah mengenai janji yang ditepati. Politik adalah mengenai konsumen (masyarakat, para pemilih) yang dipuaskan. Politik adalah mengenai memberikan yang terbaik bagi konsumen. Politik adalah membangun image.
Kampanye politik bukan cuma agenda 5 tahunan, tetapi jalan panjang yang harus dijalani terus menerus.
Image ga dibangun dalam 1-2 bulan. Bukan dengan memasang bendera. Bukan dengan mengotori kota dengan muka muka asing yang mencoba masuk ke otak konsumen agar dipilih di hari H (gosh, I hate it…. njelek2in pemandangan aja).

Come on people….. use your creativity. Make some differentiation….

Halah…. itu subject maksudnya apa sih?

Hehehehehe….. sabar sabar sabar……

OK, here we go…

Suka merhatiin ga, sekarang banyak orang suka mejeng di pinggir jalan (terutama di Jakarta). Yang mejeng dipinggir jalan sekarang bukan lagi cuma artis artis atau bintang iklan, tetapi orang orang yang membutuhkan popularitas agar dikenal publik dengan harapan pas ada pemilihan (entah pemilu, pilkada, pemilihan lurah, pemilihan ketua BEM, dll) mereka mendapat dukungan publik. Lucunya, banyak wajah sekarang bersaing keras dengan wajah wajah monyet dari sebuah operator selular (dan saya lebih hapal wajah si monyet daripada wajah para tokoh tersebut). Ini terjadi di beberapa tempat dimana pemajangan wajah si tokoh ga terlalu jauh dari outlet handphone pinggir jalan. Hehehehehe…..

So, what are you saying Man?

What I’m trying to deliver is… “be creative”. Kalo semua orang melakukan hal yang sama (yaitu masang wajah mereka di pinggir jalan), sudah dapat dipastikan ga akan ada diferensiasi dan tingkat kesuksesan dengan memajang foto akan sangat rendah. Coba, kasih tau ke saya…. sebutkan 5 nama dari orang orang yang memajang fotonya di pinggir jalan tersebut. Saya sih ga bisa….. (lha wong lebih inget sama wajah si monyet kok).

Kreatifitas dalam memasarkan diri (teman saya bilang sebagai personal branding) harusnya dibangun tidak dalam waktu dekat. Ga ada cara instant untuk memasarkan diri sendiri (kecuali dengan hal hal kontroversi). Ga heran banyak artis yang sekarang terjun ke arena politik karena mereka sudah merasa beken.

In the end… reputasi ga cuma dibutuhkan saat akan memasuki masa masa pemilihan. Reputasi adalah hasil kerja dalam jangka panjang. Selama membangun reputasi, dibutuhkan kreatifitas agar orang mudah mengasosiasikan diri kita dengan sesuatu yang unik.

So fellas….. be creative…. People wont remember your face and name, unless you give big impact on their lives.