Kenal sama band The Changcuters ? Pasti lah yah. Lima personil Changcuters yang berasal dari Bandung ini sedang menikmati popularitas tinggi di dunia hiburan tanah air.
Tau dong arti kata Changcut?
Buat yang lahir di era 70 – 80 an seharusnya sih tau. Changcut (atau kancut) adalah “celana dalam”.
Kenapa Changcuters bisa berkibar? Apakah semata mata karena dewi fortuna sedang berbaik hati kepada mereka?
Rasanya sih bukan.
Lalu kenapa kalo gitu?
Satu yang bisa saya katakan adalah karena Changcuters dikelola dengan sangat baik (profesional) dan memiliki diferensiasi yang kuat sehingga mudah dibedakan dengan band lainnya.
Diferensiasi mereka dapat dilihat dari berbagai atribut yang menempel dalam diri mereka, dari mulai gaya rambut, seragam, gaya panggung (yang agak2 niru The Beatles), gerakan gerakan vokalisnya yang kayak cacing kepanasan, dll. Itu semua menambah “syarat syarat standard” sebuah band untuk bisa eksis seperti kemampuan mencipta lagu dan kemampuan musik yang ga malu maluin.
Diferensiasi mereka bukan dilihat dari tampang vokalis atau suaranya.
Tria -vokalis- bahkan berani menyatakan bahwa suara dia biasa biasa saja. Tapi toh hal itu ga bikin mereka kehilangan penggemar.
Jumlah band di Indonesia sendiri ada banyak, mungkin ribuan. Yang sampai saat ini masih berkibar antara lain Ungu, Naff, Andra and The Backbones, The Massiv, Letto, Nidji, dll. Yang kemaren sempat berjaya dan udah mulai kehilangan pamor pun banyak, misal Dewa, Seurius, Jamrud, dll. Yang udah bubar malah banyak juga.
Intinya, The Changcuters telah berhasil berkibar di industri musik tanah air walaupun ada banyak band yang sudah ada dan yang mungkin akan mencoba masuk.
Jika dilihat lebih lanjut, sebenarnya band band yang sekarang berkibar itu memiliki diferensiasi masing masing yang agak kuat.
- ST12 bisa berkibar dengan cengkok rada dangdut padahal musiknya POP.
- Kangen Band bisa berkibar karena walaupun tampangnya ga menjual tetapi musikal mereka (yang katanya rendahan) justru mudah diterima oleh masyarakat kalangan bawah. (Temen saya sampai bilang “mending denger aja lagunya, tapi jangan liat tampangnya” hahahahahaha).
- Letto kuat karena syair syair puitis dan ga melulu mengumbar cinta.
- Sebaliknya Naff konsisten dengan tema teman cinta dan syair yang indah.
- Ungu sangat kuat di musikal. Lagu lagu mereka mudah diterima pasar. Personil Band Ungu juga memiliki tampang yang lumayan. Ditambah lagi mereka rajin mengeluarkan album religi islami yang juga enak enak lagunya.
- Peterpan juga memiliki keuntungan dari Ariel sang vokalis yang memiliki tampang yang menjual, dan daya cipta lagu yang juga OK.
Nah…. kita sudah belajar betapa diferensiasi itu penting.
Band band papan atas adalah band band yang menggunakan ilmu marketing secara benar (entah mereka sadari atau tidak).
Partai partai politik yang akan terjun dalam pemilu 2009 pun sebenarnya menghadapi tingkat persaingan yang mirip dengan persaingan band.
Tetapi sayangnya banyak partai yang belum memiliki diferensiasi yang kuat.
Semua menyatakan “membela kepentingan rakyat”.
- Semua menyatakan “peduli kepada wong cilik”.
- Tiap capres-nya diusung sebagai “Ratu Adil” yang ditunggu tunggu.
- Semua berkata “akan memperbaiki” keadaan yang sudah morat marit.
- Semua berkata “anti korupsi”.
- Semua menjual kesedihan dan kesengsaraan rakyat dalam iklan dan kampanye.
Kalo cuma gitu doang mah percuma dong. Rakyat lama lama jadi antipati terhadap yang namanya Parpol. Mereka cuma peduli kepada politik uang (pas kampanye bagi bagi uang) padahal mereka belom tentu akan nyoblos atau mencontreng partai tersebut.
Partai partai politik harus belajar kepada Changcuters (atau band band yang berkibar saat ini).
Trus diferensiasi antar partai harusnya dari mana aja?
Banyak….
- Dari nama partainya aja harusnya udah bisa membuat perbedaan. Untuk hal ini, saya mesti memberikan apresiasi kepada HANURA dan GERINDRA. Mereka berhasil keluar dari kata kata “Demokrasi” dan “Pancasila” yang banyak digunakan oleh partai lain.
- Unsur kedua adalah warna dan lambang. Kedua hal ini adalah identitas partai yang juga harusnya dipilih secara hati hati. Kalo masih berkisar lambang Banteng dan warna merah, rasanya ga akan banyak faedahnya. Untuk hal ini saya cukup apresiasi terhadap PDS (ungu + burung merpati), PKS (hitam + padi dan sepasang bulan sabit) dan Golkar (kuning + beringin). Partai lain kebanyakan menggunakan warna putih, merah, hijau, biru.
- Program Kerja. Salah satu yang selalu diumbar oleh parpol adalah “kami akan”. Mereka jarang sekali memkampanyekan “kami sudah” dan “kami sedang”. Kalo kampanye “kami akan”, saya yakin akan sulit diukur keberhasilannya karena pada saat mereka terpilih mereka akan sibuk dengan keadaan2 yang terjadi sehingga lupa akan janji janji pada saat kampanye.
- Kader. Ini adalah unsur penting dalam pemilu. Kebanyakan partai menjual kader kader antah berantah yang belom punya reputasi. Saat ini banyak kader muda yang dijual oleh parpol. Kader kader muda ini kebanyakan adalah kader karbitan yang tidak menitis karir politik dari bawah dan belum memiliki karya nyata dalam masyarakat. Beberapa partai malah mulai menggunakan para selebritis untuk jadi calon legislatif, semata mata karena mengincar jumlah kursi yang bisa didapat dengan mengandalkan popularitas si artis (padahal si artis / selebritis itu sangat tidak kompeten dalam dunia politik dan belum tentu peduli kepada rakyat). Kenapa sih ga pilih kader kader dari tokoh masyarakat yang memang memiliki karya nyata saja? Kalo mau jualan program kerja dan para caleg-nya, maka pilih caleg yang memang sudah memiliki track record yang nyata. Lalu gimana dengan kader2 muda? Yah mereka harus membuktikan diri terlebih dahulu dong. There’s no short cut.
- Capres. Nah ini dia yang repot. Kebanyak orang mendirikan partai untuk menjadi kendaraan politik untuk menuju RI-1. Banyak kader partai besar keluar dari partainya dan mendirikan partai baru karena mereka gagal menjadi calon dari partai mereka. Dan ada partai yang akhirnya mengkultuskan seseorang yang itu itu saja untuk tujuan RI-1 tersebut. Capres yang ga mencerminkan keinginan rakyat banyak ga akan pernah sukses. Agum Gumelar pasti sudah merasakan hal tersebut di Pemilu 2004 kemarin.
- Cara Kampanye. Kebanyakan parpol berkampanye cuma selama masa masa memasuki pemilu dan dengan cara yang serupa juga (yaitu dengan memasang atribut parpol dan foto para caleg diseluruh tempat sehingga mengganggu keindahan). Kalau ada banyak duit maka mereka akan memasang iklan di televisi. Well, in my humble opinion, kampanye yang sesungguhnya dan mampu mengakar adalah justru bukan di masa menjelang pemilu. Kalau semua berkampanye pada saat menjelang pemilu maka calon pemilih akan menerima terlalu banyak informasi dari yang bisa mereka simpan dan olah. Kampanye model seperti ini adalah kampanye yang mahal dan sia sia. Kampanye yang mumpuni adalah kampanye yang dilakukan dengan konsisten dan dengan karya nyata kepada masyarakat (sembari memperkenalkan caleg kepada calon pemilih).
Diferensiasi memang bukan barang yang mudah didapatkan. Butuh pemikiran yang dalam untuk bisa mendapatkan ide kreatif mengenai diferensiasi, terutama di dunia politik. Akan tetapi hal tersebut bukan hal yang mustahil. Barrack Obama berhasil mendapatkan diferensiasi yang kuat. Para capres dan caleg di Indonesia pun seharusnya bisa (dan ga mesti dengan mencontek gaya Barrack Obama). BE CREATIVE folks….. BE CREATIVE.
Untuk lebih detail mengenai diferensiasi tiap parpol, ada baiknya serahkan kepada team marketing yang profesional.
Sekali lagi…. parpol harus belajar banyak dari Changcuters. Parpol harus belajar mengenai DIFERENSIASI.
pendukungnya gerindra yaaa?
Sama sekali bukan
gwa sneng banget ama lagu”ny Pa lagi fidioklipny kocclak”