Feeds:
Posts
Comments

Hai…. apa kabar? Baik baik aja khan? :-)

Guys, salah satu fenomena yang sering kita jumpai di Indonesia adalah kebanyakan orang beranggapan Sales dan Marketing itu hal yang sama. Dulu pun saya beranggapan seperti itu. Dan karena saya ga bakat dagang, maka saya memilih untuk menghindar dari profesi yang berkaitan dengan hal hal sales dan marketing ini. Mungkin karena ga bakat dagang itu pula yang membuat saya memilih masuk ke area IPA waktu SMA dan teknik ketika kuliah.

Ternyata saya salah (dan saya baru sadar beberapa tahun terakhir ini). Saat ini saya bisa bilang bahwa saya “jatuh cinta kepada Marketing, tetapi tidak kepada Sales”. Saya tetap ga bakat dagang.

Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di FEUI, saya makin tau dimana bedanya Sales dan Marketing.

So, berikut ini bedanya Sales dan Marketing (yang saya ketahui).

  • Marketing adalah Pemasaran. Sales adalah Penjualan.
  • Ilmu dasarnya Pemasaran (Marketing) adalah STP + 4P, dan skill yang dibutuhkan oleh mereka adalah kreatifitas strategi. Mereka cenderung bekerja di belakang layar. Sementara Penjualan (Sales)  lebih berada sebagai ujung tombak, dan skill yang dibutuhkan oleh Sales adalah human relationship atau interpersonal skill. Ilmu dasar yang wajib dikuasai oleh orang orang Sales adalah Prospecting – Presentation – Closing.
  • Marketing bertugas membuka jalan dan memberi umpan bagi Sales, sementara Sales bertugas mengkonversi berbagai peluang yang diciptakan oleh Marketing agar menjadi hasil. Jika diumpamakan dalam sepakbola, maka Marketing adalah playmaker seperti Kaka atau Fabregas, sementara Sales adalah striker seperti Fernando Torres atau David Villa.
  • Penilaian terhadap orang Sales biasanya dinilai dari berapa besar penjualan yang dihasilkan (diukur dengan uang), sementara penilaian kepada orang Marketing biasanya tidak diukur dengan uang, tetapi misalkan dari “Market Coverage”, “Brand Awareness”, “Penguasaan Pasar” dll dll dll.

Kenapa di Indonesia biasanya fungsi mereka digabungkan? Well, kalo menurut saya, itu karena perusahaan perusahaan di Indonesia emang ga tau bedanya, dan mereka ingin menghemat. Kalo menurut saya sih harusnya dipisahkan. Memang ada juga orang orang yang bisa merangkap dobel antara Sales dan Marketing, tapi kebanyakan sih ngga bisa. Ga semua perusahaan bisa mendapatkan playmaker yang juga merangkap sebagai striker seperti Francesco Totti atau Lionel Messi.

So, siapa yang lebih penting di perusahaan? Menurut saya sih ga ada yang lebih penting. Dua duanya penting untuk bisa saling co-exist dan interdependent (saling tergantung). Orang Sales harus mengerti pekerjaan Marketing, dan juga sebaliknya.

Need Help on My Questioner

Hai…. apa kabar ?
Makasih udah mampir di blog ini.

Kali ini saya ga akan bahas hal hal yang berbau marketing. Kali ini saya akan sedikit keluar track, yaitu membicarakan mengenai masalah Outsourcing.

Lho kok….Kenapa Outsourcing?
Karena sekarang saya sedang mengadakan penelitian untuk digunakan dalam skripsi saya, dan tema yang saya bahas adalah mengenai permasalahan permasalahan yang terjadi di dunia outsourcing.

Saat ini saya membutuhkan banyak responden untuk mengisi kuesioner saya. Responden yang saya butuhkan adalah orang orang yang pernah atau masih bekerja sebagai pegawai outsourcing.

Apabila anda memiliki kenalan yang cocok dengan kriteria responden tersebut, mohon hubungi saya di firman.fajar@gmail.com. Nanti akan saya kirimkan file ke alamat email anda, atau apabila dibutuhkan saya akan kirimkan dalam bentuk hardcopy ke alamat yang anda tentukan.

Penelitian ini akan berakhir pada 30 Maret 2009.

Sebagai gambaran umum :
Sekarang ini trend dalam dunia pekerjaan adalah dengan menggunakan model outsourcing. Sama seperti halnya sebuah pisau, Outsourcing sendiri sebenarnya sesuatu yang netral. Kalau dilakukan dengan benar dan etis, maka outsourcing akan bisa menguntungkan banyak pihak. Akan tetapi kalau disalahgunakan, maka outsourcing memang akan sangat merugikan.
Ada banyak pihak yang pro terhadap outsourcing. Tetapi banyak juga yang meminta agar outsourcing dihapuskan karena tidak manusiawi.

Yang akan saya teliti adalah mengenai persepsi karyawan outsourcing tentang isu isu dan permasalahan2 yang banyak timbul dalam sistem kerja outsourcing, seperti :

  • Tidak memiliki jenjang karir
  • Tidak memiliki kepastian masa depan
  • Perlakuan diskriminatif
  • Tidak adanya sense of belonging, baik terhadap perusahaan client (pengguna jasa outsource atau perusahaan pemberi kerja), maupun terhadap perusahaan vendor (penyedia jasa outsource).
  • DLL

Sekali lagi, saya mohon bantuan anda…. apabila anda memiliki kenalan yang pernah ataupun masih bekerja sebagai karyawan outsourcing, mohon hubungi saya di firman.fajar@gmail.com.
Mungkin orang itu anda sendiri…. atau saudara kandung anda…. atau sahabat anda…. atau pacar anda…. atau teman sekolah anda… atau teman kuliah anda… atau teman kost anda…. atau tetangga anda… atau saudara sepupu anda…. atau teman sekantor anda…. atau teman satu gedung dengan anda…. atau gebetan anda…. atau selingkuhan anda…. atau kenalan anda di milis… pokoknya siapapun yang pernah atau masih bekerja sebagai pegawai outsourcing.

Atas perhatian dan bantuan anda, saya ucapkan banyak terima kasih.

Saya termasuk orang yang suka sekali dengan masakan masakan asli Indonesia, bahkan lebih dari makanan makanan luar negeri terutama junk food (walaupun sekali sekali masih makan juga di FKC).

Salah satu menu kegemaran saya adalah Pecel Lele. Makanan ini murah meriah dan gampang ditemui di pinggir jalan (yang biasa saya lalui).
Tapi dari sekian banyak warung pecel Lele yang saya pernah singgahi, ada beberapa yang menjadi favorit saya.

Apakah Lele-nya beda?
No, of course not. Lele is Lele. Ga ada yang istimewa antara satu Lele dengan Lele lainnya.

Apakah tempatnya?
Not really. Semua warung tersebut letaknya dipinggir jalan kok. So, walaupun ada warung yang letaknya strategis dan tempatnya bersih, hal itu belum menjadi sasaran utama saya.

Apakah masalah harga?
Hehehehe….. harga Pecel Lele di Jakarta itu berkisar antara 5000 – 8000 rupiah per porsi (lengkap dengan nasi dan teh tawar hangat). Kalau cuma beda seribu – dua ribu rasanya sih ga terlalu signifikan.

Kalau begitu, apa dong yang bikin saya kembali ke warung tersebut?
Jawabannya adalah : SAMBALnya.
Lele boleh sama…. tapi sambalnya beda. Kalau makan pecel lele tapi bumbu sambalnya ga enak, maka ga ada yang istimewa dari warung tersebut…. dan akhirnya ga akan masuk dalam memory saya (selaku konsumen).

So, karena subject tulisan ini adalah PELAJARAN dari Tukang Pecel Lele, maka apa dong inti pelajarannya?

Inti pelajarannya adalah…. kalau kita menjual sebuah produk (baik barang maupun jasa) yang :
sangat general….
gampang diduplikat oleh kompetitor….
ga mungkin bersaing dalam soal harga….
lokasi tempat juga kurang strategis kalo dibanding sama kompetitor….
Maka jangan kalah dulu sebelum bertarung. Selalu ada celah untuk memenangkan hati pelanggan.
SAMBAL adalah diferensiasi yang ditawarkan si tukang pecel lele. SAMBAL memang bukan menu utama yang dijual, tapi tanpa SAMBAL maka menu utama akan berasa biasa biasa aja. SAMBAL mungkin cuma pelengkap yang tidak dipasang price tag alias tidak dijual dengan nilai rupiah. Tetapi SAMBAL tersebut bisa memberikan nilai yang lebih dari sekedar angka angka. Sambal tersebut berhasil menancapkan image warung pecel lele tadi yang di benak konsumen, dan akan membuka peluang untuk “repeat purchase”.

So…. produk apapun yang kita tawarkan…. make sure bahwa kita memiliki nilai lebih yang akan membuat konsumen kembali lagi ke kita.

Partai The Changcuters

Kenal sama band The Changcuters ? Pasti lah yah. Lima personil Changcuters yang berasal dari Bandung ini sedang menikmati popularitas tinggi di dunia hiburan tanah air.

Tau dong arti kata Changcut?
Buat yang lahir di era 70 – 80 an seharusnya sih tau. Changcut (atau kancut) adalah “celana dalam”.

Kenapa Changcuters bisa berkibar? Apakah semata mata karena dewi fortuna sedang berbaik hati kepada mereka?
Rasanya sih bukan.

Lalu kenapa kalo gitu?
Satu yang bisa saya katakan adalah karena Changcuters dikelola dengan sangat baik (profesional) dan memiliki diferensiasi yang kuat sehingga mudah dibedakan dengan band lainnya.

Diferensiasi mereka dapat dilihat dari berbagai atribut yang menempel dalam diri mereka, dari mulai gaya rambut, seragam, gaya panggung (yang agak2 niru The Beatles), gerakan gerakan vokalisnya yang kayak cacing kepanasan, dll. Itu semua menambah “syarat syarat standard” sebuah band untuk bisa eksis seperti kemampuan mencipta lagu dan kemampuan musik yang ga malu maluin.

Diferensiasi mereka bukan dilihat dari tampang vokalis atau suaranya.
Tria -vokalis- bahkan berani menyatakan bahwa suara dia biasa biasa saja. Tapi toh hal itu ga bikin mereka kehilangan penggemar.

Jumlah band di Indonesia sendiri ada banyak, mungkin ribuan. Yang sampai saat ini masih berkibar antara lain Ungu, Naff, Andra and The Backbones, The Massiv, Letto, Nidji, dll. Yang kemaren sempat berjaya dan udah mulai kehilangan pamor pun banyak, misal Dewa, Seurius, Jamrud, dll. Yang udah bubar malah banyak juga.

Intinya, The Changcuters telah berhasil berkibar di industri musik tanah air walaupun ada banyak band yang sudah ada dan yang mungkin akan mencoba masuk.

Jika dilihat lebih lanjut, sebenarnya band band yang sekarang berkibar itu memiliki diferensiasi masing masing yang agak kuat.

  • ST12 bisa berkibar dengan cengkok rada dangdut padahal musiknya POP.
  • Kangen Band bisa berkibar karena walaupun tampangnya ga menjual tetapi musikal mereka (yang katanya rendahan) justru mudah diterima oleh masyarakat kalangan bawah. (Temen saya sampai bilang “mending denger aja lagunya, tapi jangan liat tampangnya” hahahahahaha).
  • Letto kuat karena syair syair puitis dan ga melulu mengumbar cinta.
  • Sebaliknya Naff konsisten dengan tema teman cinta dan syair yang indah.
  • Ungu sangat kuat di musikal. Lagu lagu mereka mudah diterima pasar. Personil Band Ungu juga memiliki tampang yang lumayan. Ditambah lagi mereka rajin mengeluarkan album religi islami yang juga enak enak lagunya.
  • Peterpan juga memiliki keuntungan dari Ariel sang vokalis yang memiliki tampang yang menjual, dan daya cipta lagu yang juga OK.

Nah…. kita sudah belajar betapa diferensiasi itu penting.
Band band papan atas adalah band band yang menggunakan ilmu marketing secara benar (entah mereka sadari atau tidak).

Partai partai politik yang akan terjun dalam pemilu 2009 pun sebenarnya menghadapi tingkat persaingan yang mirip dengan persaingan band.
Tetapi sayangnya banyak partai yang belum memiliki diferensiasi yang kuat.
Semua menyatakan “membela kepentingan rakyat”.

  • Semua menyatakan “peduli kepada wong cilik”.
  • Tiap capres-nya diusung sebagai “Ratu Adil” yang ditunggu tunggu.
  • Semua berkata “akan memperbaiki” keadaan yang sudah morat marit.
  • Semua berkata “anti korupsi”.
  • Semua menjual kesedihan dan kesengsaraan rakyat dalam iklan dan kampanye.

Kalo cuma gitu doang mah percuma dong. Rakyat lama lama jadi antipati terhadap yang namanya Parpol. Mereka cuma peduli kepada politik uang (pas kampanye bagi bagi uang) padahal mereka belom tentu akan nyoblos atau mencontreng partai tersebut.

Partai partai politik harus belajar kepada Changcuters (atau band band yang berkibar saat ini).

Trus diferensiasi antar partai harusnya dari mana aja?
Banyak….

  • Dari nama partainya aja harusnya udah bisa membuat perbedaan. Untuk hal ini, saya mesti memberikan apresiasi kepada HANURA dan GERINDRA. Mereka berhasil keluar dari kata kata “Demokrasi” dan “Pancasila” yang banyak digunakan oleh partai lain.
  • Unsur kedua adalah warna dan lambang. Kedua hal ini adalah identitas partai yang juga harusnya dipilih secara hati hati. Kalo masih berkisar lambang Banteng dan warna merah, rasanya ga akan banyak faedahnya. Untuk hal ini saya cukup apresiasi terhadap PDS (ungu + burung merpati), PKS (hitam + padi dan sepasang bulan sabit) dan Golkar (kuning + beringin). Partai lain kebanyakan menggunakan warna putih, merah, hijau, biru.
  • Program Kerja. Salah satu yang selalu diumbar oleh parpol adalah “kami akan”. Mereka jarang sekali memkampanyekan “kami sudah” dan “kami sedang”. Kalo kampanye “kami akan”, saya yakin akan sulit diukur keberhasilannya karena pada saat mereka terpilih mereka akan sibuk dengan keadaan2 yang terjadi sehingga lupa akan janji janji pada saat kampanye.
  • Kader. Ini adalah unsur penting dalam pemilu. Kebanyakan partai menjual kader kader antah berantah yang belom punya reputasi. Saat ini banyak kader muda yang dijual oleh parpol. Kader kader muda ini kebanyakan adalah kader karbitan yang tidak menitis karir politik dari bawah dan belum memiliki karya nyata dalam masyarakat. Beberapa partai malah mulai menggunakan para selebritis untuk jadi calon legislatif, semata mata karena mengincar jumlah kursi yang bisa didapat dengan mengandalkan popularitas si artis (padahal si artis / selebritis itu sangat tidak kompeten dalam dunia politik dan belum tentu peduli kepada rakyat). Kenapa sih ga pilih kader kader dari tokoh masyarakat yang memang memiliki karya nyata saja? Kalo mau jualan program kerja dan para caleg-nya, maka pilih caleg yang memang sudah memiliki track record yang nyata. Lalu gimana dengan kader2 muda? Yah mereka harus membuktikan diri terlebih dahulu dong. There’s no short cut.
  • Capres. Nah ini dia yang repot. Kebanyak orang mendirikan partai untuk menjadi kendaraan politik untuk menuju RI-1. Banyak kader partai besar keluar dari partainya dan mendirikan partai baru karena mereka gagal menjadi calon dari partai mereka. Dan ada partai yang akhirnya mengkultuskan seseorang yang itu itu saja untuk tujuan RI-1 tersebut. Capres yang ga mencerminkan keinginan rakyat banyak ga akan pernah sukses. Agum Gumelar pasti sudah merasakan hal tersebut di Pemilu 2004 kemarin.
  • Cara Kampanye. Kebanyakan parpol berkampanye cuma selama masa masa memasuki pemilu dan dengan cara yang serupa juga (yaitu dengan memasang atribut parpol dan foto para caleg diseluruh tempat sehingga mengganggu keindahan). Kalau ada banyak duit maka mereka akan memasang iklan di televisi. Well, in my humble opinion, kampanye yang sesungguhnya dan mampu mengakar adalah justru bukan di masa menjelang pemilu. Kalau semua berkampanye pada saat menjelang pemilu maka calon pemilih akan menerima terlalu banyak informasi dari yang bisa mereka simpan dan olah. Kampanye model seperti ini adalah kampanye yang mahal dan sia sia. Kampanye yang mumpuni adalah kampanye yang dilakukan dengan konsisten dan dengan karya nyata kepada masyarakat (sembari memperkenalkan caleg kepada calon pemilih).

Diferensiasi memang bukan barang yang mudah didapatkan. Butuh pemikiran yang dalam untuk bisa mendapatkan ide kreatif mengenai diferensiasi, terutama di dunia politik. Akan tetapi hal tersebut bukan hal yang mustahil. Barrack Obama berhasil mendapatkan diferensiasi yang kuat. Para capres dan caleg di Indonesia pun seharusnya bisa (dan ga mesti dengan mencontek gaya Barrack Obama). BE CREATIVE folks….. BE CREATIVE.

Untuk lebih detail mengenai diferensiasi tiap parpol, ada baiknya serahkan kepada team marketing yang profesional.
Sekali lagi…. parpol harus belajar banyak dari Changcuters. Parpol harus belajar mengenai DIFERENSIASI.

Mee Too Political Party

Gila yah, banyak banget jumlah partai sekarang. Kayaknya semenjak orde baru tumbang yang namanya kebebasan bikin partai itu bener bener kayak kuda lepas dari kandang. Semua orang bebas bikin partai.

Dulu kita cuma kenal 3 partai (dulu means waktu orde baru), PPP, Golkar, PDI. Sekarang….. I can’t remember…. I’ve already lost count.

Sepanjang yang saya bisa kelompokkan, cuma ada 3 kategori partai yang bersaing. Partai yang berbasis agama, dan partai yang berbasis nasionalis, dan Partai berbasis agama yang berjuang tetap nasionalis.

Masing masing jumlahnya banyak.
Partai agamis contohnya PBR, PPP, PBB, dll.
Partai Nasionalis contohnya Golkar, PDI, Hanura, Gerindra, dll
Partai Agamis yang bersifat nasionalis contohnya PKB, PDS.

Jujur, saya ga bisa melihat adanya diferensiasi antar partai. Isu kampanye mereka pun tetap saja menjual the same old things…. kemiskinan…. korupsi…. penegakan hukum…. and other old stuff.

Sorry to say folks… GA KREATIF.

Jujur saja, saya makin males ngikutin perkembangan politik di negeri ini. Orang orang yang gagal berkembang di satu partai dengan gampangnya membelot ke partai lain. Kalo di partai yang baru tersebut juga mentok, maka mereka akan membuat partai baru. Click…. as simple as that.
Ga tau kenapa, saya kok mikir orang orang tersebut emang cuma haus kekuasaan dan uang aja. Kalo emang pengen berkarya demi bangsa…. masih banyak ruang yang bisa digunakan…. ga cuma lewat parlemen.
Partai partai yang berdiri bener bener ga punya diferensiasi.
Mereka cuma menjadi “Mee Too Political Party”. Opsi yang mereka tawarkan cuma kayak jejeran angkot dengan nomor tujuan yang sama. Bedanya angkot yang satu sopirnya pake kumis, angkot lain ga pake kumis. Ada sopir yang gundul, ada yang kriting, ada yang ikal, ada yang lurus. Ada yang pake kemeja kotak kotak, ada yang kemeja polos, ada yang pake T Shirt, ada yang pake kaos warna putih, merah, ijo, kuning, oranye, dll. Mereka semua ngaku bahwa angkot merekalah yang paling OK…. padahal mobil yang mereka pakai sama sama kijang yang dibalur warna merah dan kode tujuan yang sama dan tarif yang juga seragam.
Angkot manapun yang kita pilih ga akan terasa beda beda amat.

Mumpung pemilu masih beberapa bulan lagi…. masih ada waktu bagi para parpol untuk melakukan diferensiasi. Mereka harus bisa menjadikan parpol mereka menjadi parpol yang profesional. Mereka harus menggunakan pendekatan pendekatan Marketing. Sewalah para marketer ulung. Sewalah para public relation yang handal. Sewalah para strategic manager terbaik.
Politik ga cuma kepandaian bersilat lidah dan kelihaian bermanufer. Politik ga cuma sekedar menjual kata kata yang hampa. Politik BUKANLAH untuk menipu masyarakat dengan janji2 yang langsung dilupakan setelah masuk Senayan.

Politik adalah mengenai janji yang ditepati. Politik adalah mengenai konsumen (masyarakat, para pemilih) yang dipuaskan. Politik adalah mengenai memberikan yang terbaik bagi konsumen. Politik adalah membangun image.
Kampanye politik bukan cuma agenda 5 tahunan, tetapi jalan panjang yang harus dijalani terus menerus.
Image ga dibangun dalam 1-2 bulan. Bukan dengan memasang bendera. Bukan dengan mengotori kota dengan muka muka asing yang mencoba masuk ke otak konsumen agar dipilih di hari H (gosh, I hate it…. njelek2in pemandangan aja).

Come on people….. use your creativity. Make some differentiation….

Halah…. itu subject maksudnya apa sih?

Hehehehehe….. sabar sabar sabar……

OK, here we go…

Suka merhatiin ga, sekarang banyak orang suka mejeng di pinggir jalan (terutama di Jakarta). Yang mejeng dipinggir jalan sekarang bukan lagi cuma artis artis atau bintang iklan, tetapi orang orang yang membutuhkan popularitas agar dikenal publik dengan harapan pas ada pemilihan (entah pemilu, pilkada, pemilihan lurah, pemilihan ketua BEM, dll) mereka mendapat dukungan publik. Lucunya, banyak wajah sekarang bersaing keras dengan wajah wajah monyet dari sebuah operator selular (dan saya lebih hapal wajah si monyet daripada wajah para tokoh tersebut). Ini terjadi di beberapa tempat dimana pemajangan wajah si tokoh ga terlalu jauh dari outlet handphone pinggir jalan. Hehehehehe…..

So, what are you saying Man?

What I’m trying to deliver is… “be creative”. Kalo semua orang melakukan hal yang sama (yaitu masang wajah mereka di pinggir jalan), sudah dapat dipastikan ga akan ada diferensiasi dan tingkat kesuksesan dengan memajang foto akan sangat rendah. Coba, kasih tau ke saya…. sebutkan 5 nama dari orang orang yang memajang fotonya di pinggir jalan tersebut. Saya sih ga bisa….. (lha wong lebih inget sama wajah si monyet kok).

Kreatifitas dalam memasarkan diri (teman saya bilang sebagai personal branding) harusnya dibangun tidak dalam waktu dekat. Ga ada cara instant untuk memasarkan diri sendiri (kecuali dengan hal hal kontroversi). Ga heran banyak artis yang sekarang terjun ke arena politik karena mereka sudah merasa beken.

In the end… reputasi ga cuma dibutuhkan saat akan memasuki masa masa pemilihan. Reputasi adalah hasil kerja dalam jangka panjang. Selama membangun reputasi, dibutuhkan kreatifitas agar orang mudah mengasosiasikan diri kita dengan sesuatu yang unik.

So fellas….. be creative…. People wont remember your face and name, unless you give big impact on their lives.

Belum lama ini saya membaca sebuah blunder yang beredar di milis pekerjaan yang saya ikuti.

Ada yang posting info lowongan pekerjaan, tetapi salah satu syarat bagi pelamar yang diharapkan adalah dari etnis tertentu. Tiba tiba member di milis tersebut langsung bereaksi keras. Kebanyakan pada kecewa dan marah. Bisa dimaklumi sih kenapa mereka marah.

Sigh….

Tapi sebenarnya diskriminasi itu sesuatu yang sangat sering kita temui dimanapun.

Ketika saya kuliah D3 dulu, saya banyak bergaul dengan orang orang dari suku batak (karena saya aktif di persekutuan kampus). Ga jarang saya merasa terisolasi ketika mereka berbicara dalam bahasa daerah. Tapi buat saya hal itu bukan masalah. Hal tersebut ga bikin saya jadi minder.

Ayah saya pun anak angkat dari sebuah keluarga Tionghoa. Semua keluarga angkat saya sipit sipit dan putih putih, sementara keluarga kami matanya lebar lebar dan kulitnya sawo matang semua. Dalam pertemuan2 keluarga, sering ada budaya2 Tionghoa yang saya ga bisa ngerti. Tapi hal itu ga bikin saya jadi minder.

Nah, sekarang kita masuk dalam dunia pekerjaan.

Ketika orang menuntut Equal Employment Opportunity, kok yah tiba tiba ada yang rada ‘diskriminatif’. Hal itulah yang menjadi penyulut kemarahan banyak orang. Orang ga mau lagi kalah seleksi karena urusan SARA (Suku, Agama, Ras, Antar Golongan). Orang maunya kalah atas dasar prestasi mereka. Tetapi dalam kenyataan kebanyakan orang pun tidak keberatan jika atas unsur SARA itu mereka menang / lolos seleksi. Hehehehehe…….

Percaya atau tidak, memang banyak perusahaan yang lebih memilih merekrut karyawan berdasarkan hal hal diskriminatif karena mereka ingin produktifitas yang terjamin.

Ada perusahaan yang memilih etnis tertentu atau agama tertentu karena mereka ingin menghindari gesekan yang lebih besar jika mereka memilih karyawan yang heterogen. Masalah heterogen atau homogen ini memang sangat sensitif.

Ada yang memilih karyawan dari suku tertentu karena sebagian karyawan yang sudah ada berasal dari suku tersebut. Dengan tradisi yang sudah ada di suku tersebut, maka diharapkan karyawan baru jadi mudah beradaptasi. Ujung ujungnya adalah penghematan biaya karena proses adaptasi yang cepat dan si karyawan baru bisa langsung produktif.

Ada yang memilih dari agama tertentu. Dalam pandangan saya, ada banyak keuntungan bila merekrut dari agama tertentu (tentu saja ada banyak juga kekurangannya). Apabila karyawan tidak berprestasi seperti yang diharapkan, selain melakukan pendekatan secara profesional, atasan bisa melakukan pendekatan secara rohani.

Ada yang memilih karyawan berdasarkan asal perguruan tinggi si calon karyawan. Hal ini juga diskriminatif, tetapi bisa dimaklumi…. karena mungkin almamater yang sudah terkenal, atau karena kebanyakan pegawai yang sudah ada adalah dari kampus yang sama. Dengan memilih karyawan dari kampus yang sama, diharapkan bisa cepat beradaptasi (karena sudah terbiasa dengan pola pikir yang sama).

Ada banyak diskriminasi lainnya dalam dunia kerja. Selain yang sudah disebutkan, ada juga diskriminasi usia, jenjang pendidikan, jenis kelamin, dll.

Ah, jangankan di dunia pekerjaan…. dalam urusan perjodohan pun kita sering diskriminatif khan? Hanya ingin dari suku tertentu, agama tertentu, bahkan dari golongan ekonomi tertentu. Kalaupun dari suku atau agama yang berbeda, maka harus ada yang ngalah dan mengikuti pasangannya. Alasannya apa? Agar lebih bahagia.

Jika kita bisa mengerti diskriminasi dalam kerangka perjodohan, kenapa kita tidak bisa mengerti diskriminasi dunia pekerjaan?

Jadi, apabila kita ngga ingin diperlakukan diskriminatif, mungkin kita pun harus keluar dari rangka diskriminatif yang kita buat juga.

The Power Of Public Relation

Dulu saya ga pernah terlalu peduli dengan Public Relation (Humas). Saya pikir PR itu cuma salah satu bagian di perusahaan yang tugasnya jadi bumper aja kalo ada apa apa yang kurang baik terjadi supaya image perusahaan ga jadi jelek. Dulu saya pikir PR itu cuma kerjaan orang orang yang jago nge-bullshit.

Tapi itu dulu…. Sekarang sudah beda.

PR adalah salah satu bagian dari Marketing. Marketing, seperti yang kita pahami bersama, bertujuan adalah memasarkan (bukan menjual). Istilahnya, kalo memasarkan itu kayak nggiring bola dari daerah pertahanan…. trus ke lapangan tengah…. dan setelah itu mengumpan. Sales (penjualan) yang berhasil itu adalah ketika bola yang diumpan berhasil disambut oleh striker dan akhirnya masuk ke gawang lawan.

Nah, kembali ke PR…..

Dalam beberapa waktu terakhir ini, kita dibombardir dengan perang PR (yang juga artinya perang marketing) di media massa.

Hampir semua tokoh2 yang mencalonkan diri menjadi kepala daerah menggunakan kekuatan PR untuk membangun image pribadi. Tokoh tokoh yang dulu bermasalah sekarang berani menampilkan diri (setelah sekian lama tiarap) dan berlagak seakan akan merekalah yang sanggup merubah keadaan menjadi lebih baik. Sesuatu / seseorang yang buruk rupa, bisa dicitrakan menjadi bagus dengan yang namanya Public Relation.

Everybody does it…. Rano Karno, Dede Yusuf, Rizal Mallarangeng, Prabowo, Helmy Yahya…. you name it. Bahkan salah satu kunci sukses kampanye Barack Obama adalah keberhasilannya mencitrakan diri sebagai orang yang mampu membawa perubahan. Dan lagi lagi…. biang keroknya adalah PR.

Yang lucunya, Amrozy dan kawan kawannya pun sepertinya mengalami efek PR. Entah siapa yang menghembuskan…. apakah para simpatisan… atau emang ada teamnya…. Amrozy dkk yang sudah terbukti bersalah di pengadilan sebagai penjahat teroris (yang merugikan bangsa dan negara dan seluruh rakyat indonesia…. membunuh ratusan orang) malah dianggap sebagai Syuhada…. Mujahid…. dan apapun namanya yang merujuk sebagai seorang pahlawan dalam konteks agama Islam. Saya tidak berada dalam posisi untuk menghakimi mereka. Saya cuma ingin katakan, PR memiliki power yang luar biasa.

Oleh sebab itu, jika anda ingin agar image perusahaan anda bisa bagus, tidak ada salahnya menggunakan PR. Power of PR is tremendous. Jangan pernah under-estimate the power of PR.

Thank You…

Terimakasih… thank you…. atau maturnuwun…. atau apapun…. adalah kata kata yang simpel untuk diucapkan. Tetapi seberapa seringkah kita mengucapkan kata kata itu dengan tulus?

Kata “terima kasih” memang gampang untuk diucapkan…. tapi ga semua orang bisa mengucapkan kata “terima kasih” yang keluar dari dalam hati.

Maksudnya “dari dalam hati” tuh gimana ?

Artinya…. kita mengucapkan kata “terima kasih” itu karena kita benar benar ingin mengucapkan terimakasih kepada seseorang, dan bukan sebagai kata kata pemanis yang tanpa makna. Kata “terima kasih” yang keluar dari dalam hati akan berbeda rasanya dengan kata “terima kasih” yang cuma diucapkan sebagai basa basi.

Kata “terima kasih” yang keluar dari dalam hati bahkan bisa berharga jauuuuh lebih besar daripada uang.

Banyak karyawan yang akan merasa betah bekerja di sebuah perusahaan bukan karena besarnya gaji, tetapi karena mereka merasa dibutuhkan dan dihargai. Salah satu indikasi bahwa mereka dihargai oleh atasannya adalah ketika sang atasan memberikan apresiasi verbal terhadap apa yang sudah dilakukan oleh si karyawan.

“Budi, kemaren presentasi kamu bagus lho. Saya seneng dengan cara kamu mempresentasikan produk kita. Terima kasih yah.”

Kalo kita jadi si Budi, pasti deh kita akan ngerasa seneng dengan ucapan boss kita tersebut. Ucapan terimakasih ga perlu nunggu sampai ada “penjualan”. Terkadang ucapan terima kasih itu justru merupakan bahan bakar semangat bagi para salesman yang sudah mulai putus asa karena target tahun ini baru tercapai 60% padahal waktunya tinggal 2 bulan lagi.

Ucapan terima kasih yang keluar dari dalam hati bisa memangkas jurang komunikasi antara 2 pihak, karena kata terima kasih yang dari hati akan mendekatkan si orang yang mengucapkan tersebut dengan yang menerima ucapan tersebut.

Coba itung berapa banyak rumah tangga hancur karena ga pernah ada kata “terima kasih” yang sungguh2 dari masing masing pasangan. Lama lama apa yang suami istri lakukan adalah kewajiban2 rutin rumah tangga yang tidak pernah dihargai oleh pasangan.

Demikian juga di kantor. Ketika atasan tidak pernah mengapresiasi anak buahnya, pada dasarnya dia sedang membangun jarak dirinya dengan si bawahan. Dan apabila hal itu terjadi maka hubungan mereka cuma akan menjadi hubungan formal yang tidak menciptakan suasana hangat bagi mereka semua. Saat itu terjadi maka tidak ada “penghambat” bagi bawahan untuk pindah kantor jika mereka mendapat better offer.

Sebaliknya….. ada banyak karyawan yang menolak pindah walaupun sudah mendapat penawaran yang menggiurkan hanya karena mereka tidak mau kehilangan apa yang mereka “miliki”.

Jadi, karena kata “terima kasih” itu sangat penting, alangkah lebih baik jika mulai saat ini kita mulai membiasakan diri untuk berterima kasih….. dan ga cuma berterima kasih yang basa basi, tetapi terimakasih yang benar benar keluar dari dalam hati.

Pernah denger istilah micromanagement ? Belum pernah ? Hehehehe, jangan khawatir…. ini memang istilah yang jarang diucapkan. Walaupun jarang diucapkan tetapi kemungkinan besar micromanagement ada di sekitar kita. Mungkin saja anda sedang mengalaminya.

OK, OK…. sebelum anda makin penasaran saya akan langsung jelaskan.

Entah posisi anda sebagai pemimpin maupun anak buah, anda pasti dihadapkan dengan berbagai gaya kepemimpinan. Orang yang memimpin orang lain biasanya disebut sebagai atasan (supervisor). Para pemimpin menerapkan metode metode tertentu dalam mengendalikan hal hal yang menjadi tanggungjawab mereka. Istilah yang populer adalah ”management”, dan orang yang menerapkan management disebut sebagai ”manager”.

ImageChef.com - Custom comment codes for MySpace, Hi5, Friendster and more

Trus apa dong yang dimaksud dengan Micromanagement ?

Sabar… sabar…. :-)

Anggaplah anda seorang manager atau boss, dan anda memerintahkan anak buah anda untuk melakukan suatu pekerjaan dalam kurun waktu tertentu (alias ada deadline-nya). Nah, saya mau tau…..apa yang akan anda lakukan selama anda menunggu anak buah anda mengerjakan apa yang anda perintahkan ? Apakah anda akan memberikan perincian detail apa yang harus dia lakukan dan selalu checking tiap satu jam mengenai progress dari pekerjaan mereka ? Atau anda akan duduk dan menunggu anak buah anda memberikan laporan mengenai hasil pekerjaan mereka (tentunya Anda sambil mengerjakan hal hal lain, ga cuma ongkang ongkang kaki)?

Apabila anda mengerjakan yang pertama, maka besar kemungkinan anda adalah seorang micromanager. Micromanager adalah seorang manager yang tidak bisa melewatkan detail detail kecil.

Eits eits eits…. jangan sewot dulu.

Memang benar, salah satu tugas manager adalah menjalankan fungsi Controlling. Tapi controlling yang terlalu detail justru tidak akan efektif.

Seorang micromanager biasanya membawa atribut atribut positif dalam management (seperti attention to detail dan hands-on attitude) ke kutub yang ekstrim. Bisa jadi karena sang micromanager sangat control-obsessed, atau karena merasa harus mendorong orang orang di sekitarnya agar sukses. Hal ini bisa mengakibatkan orang orang disekitarnya justru merasa tidak berdaya.

Lha kok bisa ?

Ya bisa dong. Anak buah jadi merasa tidak pernah dipercaya oleh atasan. ”Ga peduli seberapa bagus gue kerja, tetep aja ada yang kurang di mata si boss”. Anak buah akan merasa tertekan dan marah (dan biasanya dia marah di belakang anda). Jika keadaan tersebut tidak diperbaiki ending-nya ga akan mengejutkan kalo akhirnya mereka resign.

Dan rasanya kita semua sudah tahu bahwa jika sebuah perusahaan mengalami tingkat turn-over karyawan yang sangat tinggi maka biaya overhead akan besar juga dan akan menjadi lingkaran setan yang membuat perusahaan tersebut sukar berkembang. Satu satunya cara untuk memperbaiki ini adalah dengan merubah dan meninggalkan micromanagement tersebut.

Kita lihat dulu yuk simptom untuk micromanagement tersebut

Seorang pemimpin yang (mungkin secara sadar maupun tidak sadar) melakukan Micromanagement biasanya ditandai dengan beberapa hal, antara lain ;

  • Agak sukar melakukan delegasi
  • Selalu ingin mengawasi pekerjaan / project orang lain
  • Selalu memperbaiki detail kecil daripada melihat big picture.
  • Mengambil kembali pendelegasian sebelum tugas itu selesai jika menemukan sebuah kesalahan
  • Membuat orang lain enggan mengambil keputusan tanpa campur tangannya.

Hei Boss, daripada anda ngurusin detail pekerjaan orang lain, kenapa juga anda ga biarkan orang lain mengerjakan tugasnya dan anda cari kegiatan lain yang lebih produktif ?

Coba kita test yuk. Berikan anak buah anda tugas, dan tinggalkan dia sampai dengan deadline. Jangan ganggu dia dengan kebiasaan anda mengawasi dia. Kalau dia ternyata bisa perform dengan baik (atau bahkan lebih baik daripada yang anda harapkan), maka itu adalah tanda bahwa anda selama ini terlalu mengekang mereka dan ternyata anda salah,

Pada dasarnya para pegawai memiliki kemampuan untuk bekerja dan memiliki rasa percaya diri untuk bertanggungjawab atas pekerjaannya. Tetapi micromanagement akan membunuh itu semua. Pegawai akan merasa canggung dan kurang percaya diri dengan kemampuannya. Apabila hal ini terjadi maka salah satu dari dua kemungkinan ini akan dilakukan oleh si pegawai, yaitu selalu meminta petunjuk kepada atasan atau dia akan nekad memaksakan melakukan semampunya dan membawa hasil yang juga tidak maksimal.

Dan dalam dua kasus tersebut di atas, maka si micromanager akan merasa mendapat bukti bahwa tanpa intervensi mereka secara keseluruhan maka semuanya tidak akan berjalan sesuai dengan yang dikehendakinya, ”Tuh khan, gue bilang juga apa…. anak buah gue mah ga ada yang becus kerjaannya. Ga tau deh gimana jadinya nih kantor kalo ga ada gue”. Huhuhuhuhuuuuy. Makin gawat deh boss kalo gini ceritanya.

Kalo udah begitu, kira kira micromanagement itu bakal bagus atau jelek ?

Seorang manager yang efektif akan mempersiapkan banyak hal agar anak buahnya untuk maju dan sukses. Tetapi di sisi lain, seorang micromanager justru akan menghambat anak buahnya dengan tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk membuat keputusan dan bertanggungjawab atas keputusannya. Padahal justru dengan terlibat langsung dalam pengambilan keputusan dan konsekwensinya tersebutlah maka seseorang akan berkembang.

Manager yang baik akan empowering anak buahnya untuk berkembang. Manager yang buruk justru akan dispowering anak buahnya dengan memberikan banyak rintangan untuk maju. Dan anak buah yang tidak diberikan banyak peluang untuk maju justru akan menjadi anak buah yang tidak efektif dan selalu membutuhkan waktu dan energi dari atasannya.

Kalau bawahannya cuma satu sih ga apa apa. Nah kalo anak buahnya banyak gimana dong ? Berarti waktu dan energi si atasan harus dikalikan dengan jumlah anak buahnya untuk menghitung berapa besar kerugian perusahaan atas sistem micromanagement tersebut. Kalau sampai itu terjadi, sudah dapat dipastikan si atasan ga akan punya waktu untuk berkoordinasi dengan manager lainnya dan melihat permasalahan secara lebih global (big picture). Dia akan selalu sibuk ngurusin team-nya.

Trus, gimana cara memperbaikinya ?

Langkah awal yang harus dilakukan adalah agar si pelaku micromanagement mengetahui dampak buruk dari apa yang dilakukannya dan membuat dia melihat dari sisi lain.

Ini sama aja kayak memberitahu seseorang untuk berhenti merokok. Kalau si perokok ga merasa butuh untuk berhenti merokok maka himbauan jangan merokok cuma akan masuk kuping kiri keluar kuping kanan, Kalau si pelaku sudah sadar dan merasa butuh untuk berubah maka itu adalah awal yang bagus. Tetapi awal yang bagus itu barulah 10% dari perjalanan jauh. Jadi, jangan senang dulu di tahap ini.

Langkah selanjutnya adalah mempertemukan semua pihak untuk duduk sama sama dan membicarakan permasalahan tersebut. Pertemuannya mungkin ga akan cukup dalam satu atau dua pertemuan, tetapi bisa berkali kali sampai semua ”penyakit bisa disembuhkan”. Sama toh dengan minum obat ? Untuk penyakit yang sudah parah ga mungkin cuma minum obat satu kali dan langsung sembuh. Harus (misal) 4 x 2 tablet per hari selama 2 minggu dan setelah makan.

Dalam pertemuan ini, si manager harus mau meminta maaf atas sikapnya selama ini dan ia harus dapat meyakinkan anak buahnya bahwa ia menginginkan perubahan. Tentu saja hal ini akan sulit karena anak buah ga akan langsung percaya dan sudah pasti mereka ga akan secara langsung memberikan feedback. Sudah dapat ditebak bahwa anak buahnya akan mengambil sikap ”Kita liat aja dulu…..paling paling cuma diomongan doang”.

Hehehehehe

Jangan nyerah Boss…… masak digituin sama anak buah aja langsung males ? Tunjukin bahwa anda ga cuma bisa ngomong tapi juga bisa membuktikan janji anda.

Nah yang paling penting selanjutnya adalah melakukan komitmen yang sudah dibuat. Manager harus mau berusaha untuk mulai memberikan power yang lebih besar kepada anak buahnya. Dia harus menahan egonya untuk jadi perfectionist.

Dan karena yang namanya perubahan itu ga cuma membutuhkan dari satu orang tetapi seluruh team, maka peran aktif dari anak buah pun diperlukan agar perubahan itu bisa diwujudkan secepatnya.

Jika anda berada dalam posisi sebagai anak buah, maka bantulah atasan anda dengan ;

  • Bantu boss anda agar mau mendelegasikan tugas ke anda secara efektif dengan meminta semua informasi yang anda butuhkan di awal, dan lakukan review bersamanya (dengan inisiatif si anak buah) selama pengerjaan tugas.
  • Mengajukan diri untuk melakukan tugas tugas yang anda yakin anda mampu melaksanakannya. Ini akan meningkatkan kepercayaannya kepada anda dan pendelegasian tugas kepada anda.
  • Pastikan bahwa anda akan mengkomunikasikan progress kepadanya secara teratur, untuk mencegahnya selalu mencari informasi hanya ketika dia sedang tidak punya untuk sementara informasi yang dibutuhkannya.
  • Konsentrasi untuk membantu atasan anda untuk merubah kebiasaan micromanagement perlahan lahan. Ingat, boss anda khan juga cuma manusia yang pasti berbuat salah.

Peran aktif dari kedua belah pihak (atasan dan bawahan) sangat dibutuhkan. Perubahan ini ga akan sukses kalau salah satu pihak enggan membantu pihak lain.

Ingatlah, minum obat itu emang ga enak. Pahit. Tapi setelah sembuh, anda akan bisa merasa lebih enak daripada ketika anda sakit. Anda akan bisa lebih produktif setelah masa penyembuhan selesai.

Stop complaining. Start to change.

Tulisan diinspirasikan dari www.mindtools.com

Older Posts »